Jacob Ereste : Bencana Banjir Akibat Ulah Dari Ketamakan dan Kerakusan Manusia

Hariànonline.news – Nasiolal, Bermula dari mengobral konsesi hutan untuk berbagai usaha, mulai dari perkebunan hingga pertambangan, dasarnya cuma demi meraup duit secara lebih gampang hanya dengan mempermudah perolehan izin pengelolaan hutan sebagai pertahanan lingkungan yang tidak lagi bis berfungsi menahan curah hujan yang langsung menggerus tanah yang telah gundul tiada lagi memiliki pertahanan untuk tidak terbawa arus air hujan yang ikut menghanyutkan apa saja yang ada di bagian hilir hingga menggasak ladang, kebun hingga perkampungan penduduk dengan segenap harta benda yang ada. Termasuk ruang, hewan ternak berikut kandang serta pepohonan yang ada di sekitarnya ikut tumbang dan menambah arus deras air bah yang melimpah ke segala arah.

Pembukaan hutan yang diberikan secara legal maupun eligal kepada pengusaha perkebunan maupun pertambangan, pada dasarnya dimulai dengan membersihkan lahan tersebut dari tetumbuhan yang ada di atasnya, tidak kecuali akar pepohonan yang harus dibersihkan hingga kehilqngan daya serap dan data tahan untuk menjinakkan air yang tercurah deras dari langit. Karenanya, air bah tak hanya menggelontor semua pepohonan yang telah disumbangkan untuk dijadikan komoditi perdagangan yang tidak kecil nilainya, tapi juga untuk mempermudah mengekploitasi lahan garapan tersebut sesuai dengan kehendak yang disukai oleh pihak pengusaha yang memperoleh otoritas pendelolaan, baik secara legal maupun yang diperoleh secara ilegal, karena tidak mendapat pengawasan yang sepatutnya oleh petugas Polisi Kehutanan setempat.

Jadi jelas kalau sungguh serius hendak diusut, maka mulai dari proses pemberian ijin pengelolaan hutan yang diberikan secara ugal-ugalan itu, hingga kepada petugas pengawas di lapangan harus mendapat sanksi yang setimpal, termasuk pihak pengusaha tambang atau perkebunan kelapa sawit yang memang nakal dan culas, tak hanya tidak mematuhi tata aturan pengelolaan lahan hutan, tapi juga abai terhadap etika bisnis yang cuma diorientasikan hanya untuk mengetuk keuntungan sendiri, tanpa mempunyai pertimbangan terhadap upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan yang ada di sekitarnya.

Akibat dari kerakusan dan ketamakan serta egosentrisitas para pengusaga tambang dan perkebunan di Indonesia yang tidak memiliki etika moral sebagai pengusaha — karena selalu mementingkan kehendak dan keinginan diri sendiri — maka ancaman bagi warga masyarakat sekitar hingga yang berada di bagian hilir sungai — akan menjadi korban yang didera pertama kali oleh akibat dari bencana sebagai ulah perbuatan buruk para pengusaha tambang atau perkebunan kelapa sawit yang tengah menjadi promadona sebagai sumber penghasilan baru yang sangat dibutuhkan oleh manusia pada jaman sekarang ini. Kendati begitu, toh hasil tambang yang masih bisa dikeruk dari dalam perut bumi di Indonesia seperti belum terkalahkan juga daya rangsangnya untuk menyeruk kekayaan yang tak terhingga batasnya.

Begitulah bencana banjir akibat ulah manusia di hulu hingga ke hilir, menggulung semua menjadi sampah seakan sedang mengingatkan kepada manusia yang tamak dan rakus tiada memiliki dan memahami etika lingkungan lantaran mabuk dan konsentrasi pada nilai uang yang tekah dijadikan Tuhan seakan dapat memberi jaminan kebahagiaan meski harus berada diatas penderitaan orang lain. Dan azab pasti akan tiba juga, akibat dari pembangkangan terhadap sunnattulah seperti yang sudah diisyaratkan dalam bahasa bumi yang telah menggedor langit. Karena itu para pelaku — pengambil kebijakan yang salah dan tidak berlaku adil, pada saatnya akan mendapat azab yang setimpal, atau bahkan lebih perih dari dera dan derita rakyat yang tidak mendapat perhatian seperti yang terjadi hari ini.

Banten, 21 Desember 2025

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai