
Haŕianonline.news-Nasional, Ketika selera makan dan selera menulis menjadi kendor dan limpes, bisa disadari sesungguhnya bahwa manusia sendiri tidak sepenuhnya berdaukat atau kuasa atas dirinya sendiri, karena ada faktor lain yang bis a lebih menentukan dari kuasa dan otoritas terhadap diri kita sendiri.
Begitulah realitas yang bisa dialami, meski acap dilupakan atau bahkan tak pernah sempat menjadi bahan permenungan yang dapat menghantar memasuki wilayah kesadaran spiritual agar bisa semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena semua yang ada dalam diri kita sebagai manusia adalah milik Tuhan juga adanya. Karena itu sikap sombong dan jumawa — seakan diri kita lebih berkuasa dari pada Tuhan — tidak perlu terjadi, apalagi sampai dianggap keunggulan diri yang menimbulkan kejumawahan. Kesombongan, sikap pongah seakan menjadi kekuatan milik dari sendiri yang tak mungkin dimiliki oleh orang lain.
Ibarat kata, dalam istilah saudara kita dari Betawi, diatas langit itu masih ada langit. Artinya, janganlah pernah sombong sehingga jadi lupa diri dari mana sesungguhnya berasal, serta hendak kemana tujyan akhir dari tujuan hidup yang paling utama di dunia ini. Sehingga kesadaran terhadap dunia adalah milik bersama yang tidak boleh kira monopoli atau dikeloni sendiri. Karena hak miliki orang lain pun harus kita hargai.
Tapi atas nama kepentingan untuk diri sendiri, orang acap melupakan hak dan kepentingan orangain, hanya untuk memenuhi hawa nafsu dan kehendak dari keinginan dirinya sendiri, tanpa mengindahkan hak dan kepentingan orang lain. Begitulah egosentrisitas dan ambisi yang liar tanpa kendali, berada di luar akal sehat kecuali hasrat dan nafsu tanpa kendali hingga acap menggagahi dan merampas hak dan kepentingan dasar orang lain.
Dalam dilema psikologis seperti inilah, permenungan bernuansa spiritual — perlu dilakukan pada kedakaman hati yang jernih dan bersih — agar sebagai manusia tidak sampai terperosok dan terjerembab dalam kebangan nafsu hewani yang cuma mengandalkan hasrat dan naluri tanpa kendali. Sebab bisa banyak hal jadi bisa melampaui batas, lantaran hilang kendali dan pengendalian diri dari naluri hewani, atau setan.
Keserakahan dan ketamakan seperti yang banyak dilakukan oleh koruptor, pengkhianat bangsa dam mereka yang tega menggadaikan harkat dan martabat bangsa dengan menjual dan mengobral kekayaan bangsa dan negara, susah terlalu banyak hingga sulit untuk dimaafkan kecuali tinggal menunggu azab yang bakal menghisap mereka bersana anak istri dan cucu cicitnya.
Bayangkan, tak hanya biaya ibadah haji yang mereka permainan, rapi juga dana bantuan untuk bencana alam akibat ulah manusia pun mereka telan juga tanpa sedikitpun mereka berdosa. Lalu mentalitas dan akhlak seperti apa sesungguhnya bagi yang masih ingin dianggap sebagai manusia yang mulia dihadapan Tuhan. Bahkan dalam suasana rakyat sedang berduka pun mereka yang tamak dan rakus itu masih saja melakukan tipu dayanya — tak hanya sekedar untuk mendulang keuntungan, rapi justru untuk semakin memperkaya diri dengan berbagai cara dan dalih, termasuk memanipulasi fakta dan data — bukan cuma untuk menutupi kesalahan dan kekeluriannya yang ikut andil dalam malapetaka akibat ulah kejahilan dan keculasanmya, tapi juga menjadikan bencana itu untuk meninggikan pencitraan dirinya setara dewa.
Sunter, 17 Desember 2025
